Tampilkan postingan dengan label Tabulampot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabulampot. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

Budidaya Tanaman Buah Naga Dalam Pot

Buah naga yang populer di Indonesia antara lain buah naga kulit merah dengan daging buah berwarna putih (Hylocereus Undatus), buah naga kulit merah dengan daging buah berwarna merah keunguan (Hylocereus polyrhizus), buah naga super merah (Hylocereus costariensis), dan buah naga kuning (Hylocereus megalanthus). Buah naga kulit merah dengan daging buah berwarna putih memiliki ukuran yang paling besar, sekitar 400-700 gram per buah. Sementara itu, buah naga kuning memiliki ukuran yang paling kecil daripada yang lain, sekitar 80-100 gram perbuah, namun rasa buahnya yang paling manis dari buah naga yang lainnya.


Berikut beberapa cara yang dilakukan untuk dapat merangsang pembungaan buah naga.
  • Pemupukan
    Berikan pupuk berupa pupuk majemuk yang mengandung unsur P dan K tinggi, seperti NPK 15:15:15 dengan dosis 50 gram per pot. Bisa juga diberi campuran pupuk tunggal berupa ZA, SP-18, dan KCI. Dosis setiap pupuk tunggal yang diberikan adalah 50 gram per pot. Tambahkan juga pupuk kandang guna meningkatkan kadar bahan organik pada media tanam, diikut dengan penyiraman pada pagi atau sore hari. Selang 2-4 minggu setelah pemupukan lewat akar, berikan pemupukan daun. Saat tanaman mulai mengeluarkan bunga, lakukan segera pemupukan. Aplikasi pupuk dapat berupa pupuk TSP dan KCI atau pupuk NPK 15:15:15. Larutkan dahulu pupuk dengan konsentrasi 2 gram per liter air agar lebih cepat diserap tanaman. Selanjutnya, larutan pupuk disemprotkan  pada tanaman setiap minggu selama delapan minggu.
  • Pemangkasan
    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk cabang baru yang produktif. Sebaiknya, pemangkasan dilakukan sejak tanaman sudah berumur 2-3 bulan. Untuk pertumbuhan yang optimal, sebaiknya tinggi tanaman tidak lebih dari 140-170 cm dan jumlah cabang produktif yang dipeliharanya hanya 3-4 cabang dan cabang lain sebaiknya dipangkas.
    Berikut tahapan pemangkasan.
    1. Tempatkan tiang dari besi atau bambu yang cukup kuat di tengah-tengah pot.
    2. Ikatkan batang utama pada tiang tersebut. 
    3. Saat cabang-cabang mulai tumbuh, atur arahnya supaya menjuntai ke bawah. 
    4. Pangkas cabang pilihan agar tingginya mencapai 40-60 cm dari media tanam. Hasilnya, akan muncul cabang baru yang diikuti dengan munculnya bakal bunga. 
    5. Pada cabang produktif yang tidak tumbuh, lakukan pemangkasan pucuk sepanjang 5-10 cm.
  •  ZPT
    Berikan ZPT pada tabulampot buah naga untuk meningkatkan ketahanan bunga dan mencegah terjadinya kerontokan. ZPT yang diberikan adalah GA3 dengan dosis 50-70 ppm/tanaman. Dengan cara menyemprotkannya di atas permukaan daun setiap minggu hingga tampak pentil buah.
  • Penjarangan
    Penjarangan dilakukan ketika bunga mulai muncul. Untuk mengoptimalkan perkembangan pada buah, setiap cabang sisakan saja dua bunga yang berjarak 30 cm satu sama lain. Umumnya, bunga dengan kelopak berwarna hijau yang dipelihara.
  • Repotting
    Rajin mengganti media tanam pot dapat memacu pembungaan tabulampot buah naga. Tambahkan pupuk kandang beserta media baru yang lebih subur untuk menjaga kesuburan dan kesehatan tanaman, sehingga tabulampot buah naga dapat berbuah dengan cepat dan optimal.
  • Agar buah menjadi manis
    Semprotkan larutan monokaliumfosfat dan multimikro untuk meningkatkan kemanisan pada buah naga. Dosis masing-masing larutan adalah 2 gram/liter air dan 1 cc/liter air. Lakukan penyemprotan saat pagi atau sore hari saat matahari tidak terlalu terik agar tanaman tidak layu.

Sumber : http://budidayasda.blogspot.co.id/2014/03/budidaya-tanaman-buah-naga-dalam-pot.html

Penyebab Utama Tabulampot Tidak Berbuah

Memelihara tabulampot memang tidak semudah yang dibayangkan. Dengan wadah yang terbatas, tabulampot justru perlu mendapatkan perhatian khusus agar dapat tumbuh secara optimal dan menghasilkan buah. Pengetahuan bagaimana cara untuk membuahkan tabulampot dengan cepat dan tepat tentu menjadi kunci utama.Umumnya, proses pembuahan pada tabulampot tentu menjadi hal yang ditunggu-tunggu sang pemilik. Namun, kondisinya akan berbeda jika tabulampot yang ditanam hanya berupa tanaman tegak yang tidak kunjung berbuah. Tabulampot yang sukar berbuah kadang kala disebabkan oleh pemilik yang kurang teliti dan kurang paham tentang teknik pemeliharaan yang benar. Di lapangan, ada banyak penyebab tanaman tabulampot sukar berbuah. Mulai dari bibit yang bermutu rendah, kurangnya unsur hara bagi tanaman, hingga tanaman yang sakit.



Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan tabulampot sukar berbuah.

  1. Bibit berasal dari biji
    Tambulapot yang berasal dari bibit hasil perkembanganbiakan generatif atau biji memang membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah. Lain halnya dengan bibit yang berasal dari perkembangbiakan vegetatif, seperti, stek, cangkok, sambung, dan okulasi. Tanaman yang berasal dari bibit vegetatif relatif lebih cepat menghasilkan buah.
  2. Faktor genetik dan umur tanaman
    Untuk dapat menghasilkan buah, setiap tanaman memiliki waktu yang berbeda-beda. Dipengaruhi oleh genetik pada tanaman tersebut. Berdasarkan kemampuannya menghasilkan buah, tabulampot yang berasal dari bibit vegetatif dapat dikelompokkan menjadi tabulampot yang mudah, sedang, dan sukar berbuah.Varietas yang berbeda pada jenis tanaman yang sama memiliki kemampuan berbeda, beberapa dari varietas unggul yang baru dilepas umumnya dapat berbuah dengan mudah dan cepat.
  3. Media tanam yang salah
    Media tanam berfungsi untuk menunjang pertumbuhan akar dan menyediakan unsur hara. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dibutuhkan media tanam yang tepat. Media dengan kondisi yang tidak terlalu baik dapat diatasi dengan penambahan bahan organik karena mengandung unsur hara yang tinggi juga sebagai bahan stimulan bagi organisme tanah yang menguntungkan.
  4. Kurangnya asupan hara
    Hara merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Jika tanaman kurang asupan hara maka sudah dipastikan pertumbuhan tanaman tersebut terhambat.
  5. Aplikasi pemupukan yang salah
    Aplikasi pemupukan yang keliru dapat menghambat munculnya bunga. Bahkan, tanaman yang mulai mengeluarkan bakal bunga, serentak menjadi mogok dan mandul akibat aplikasi pemupukan yang salah.
  6. Pengairan yang kurang tepat
    Kebutuhan air perlu diperhatikan terutama pada fase kritis, yaitu saat vegetatif tanaman, pembungaan, dan pembuahan. Pemberian air kepada tanaman harus dilakukan secara tepat waktu dan teratur.
  7. Lingkungan tumbuh yang tidak sesuai
    Beberapa lingkungan yang mempengaruhi tabulmapot, antara lain, ketinggian tempat, suhu lingkungan, cahaya matahari, curah hujan, dan kelembaban.
     

Tabulampot Cabe

Selain dari segi estetika, bertanam tabulampot cabe juga menguntungkan dari segi gizi dan ekonomi. Kenapa? Salah satu produk pertanian yang harganya tergolong produktif adalah cabe. Tapi, lain soal jika kita bertanam cabe dalam pot atau yang lebih akrab disebut tabulampot cabe. Jumlahnya terbatas, dan karena itu risikonya lebih kecil. Selain itu, banyak hal yang dapat dipetik dari tabulampot cabe. Dari segi estetika, misalnya, bisa menambah keindahan halaman rumah atau teras. Tidak percaya? Coba buat beberapa tabulampot cabe dan satu tanaman hias yang daunnya besar dan hijau. Letakkan tabulampot cabe mengelilingi tanaman hias tersebut. Indah sekali! Dari segi gizi, bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Pedasnya cabe dapat memperlancar sirkulasi darah ke jantung. Pasalnya, rasa pedas akan membuat suhu tubuh meningkat, sehingga metabolisme pun meningkat, sehingga aliran darah bertambah kencang.
TAK SULIT Kita kenal sekurang-kurangnya ada 2 jenis cabe, yakni cabe kecil (Capsicum frustencens) dan cabe besar (Capsicum annum). Contoh cabe kecil adalah cabe rawit, bolivian yang mampu hidup selama 3 tahun dengan produksi nonstop. Sedangkan cabe besar, seperti cabe hero, cabe hotbeauty, cabe keriting, dan cabe hibrida lainnya, tergolong tanaman semusim, dan karena itu sekali berbuah sudah selesai. Nah, jika Anda ingin bertambulampot cabe, sebaiknya cobalah buat sendiri benihnya. Bagaimana caranya?

1. Memilih Benih Dapatkan buah cabe yang benar- benar matang, segar, sehat, dan bentuknya sempurna. Irislah daging buah memanjang, lalu keluarkan biji- bijinya. Cuci bersih dan keringanginkan. Pilihlah biji yang bentuk, ukuran, dan warnanya seragam. Tidak keriput, kulit cerah. Nah, biji-biji inilah yang disiapkan untuk benih.
2. Menyiapkan Media Semai Sekitar seminggu sebelum benih disemaikan, siapkan media semainya. Biasanya berupa wadah “ceper”, terbuat dari kayu, dan bagian dasarnya berlubang untuk pembuangan air. Berilah campuran tanah subur, pasir, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1) serta tambahkan pupuk NPK yang dihaluskan.
3. Menyemai Benih Sebelum benih disemaikan, rendam lebih dulu dalam air hangat selama 2 - 3 jam. Jika diperoleh benih yang mengapung atau melayang, buang saja. Gunakan benih yang tenggelam. Selanjutnya, tebarlah benih dengan jarak 3 - 4 cm, lalu kerudungi dengan plastik, dan letakkan di tempat teduh. Saban hari, buka kerudung untuk dilakukan penyiraman. Sekitar 3 - 7 hari kemudian, benih mulai berkecambah, dan kerudung sudah tidak dipakai lagi. Tapi, tetaplah rajin menyiram setiap pagi.
4. Memindahkan Polibag Ketika bibit sudah memiliki 2 - 3 helai daun (atau berumur seminggu), sebaiknya pindahkan ke polibag (ukuran 10 - 15 cm) yang telah berisi campuran tanah subur, pasir, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1). Cara memindahkan bibit dari media semai ke polibag adalah dengan dicongkel ke atas bersama akarnya, lalu tanam ke dalam polibag.
5. Merawat dan Pindahkan ke Pot Lakukan perawatan, seperti penyiraman, penyiangan, dan pemupukan. Pada umur semai 2 - 3 minggu dapat diberi tambahan gizi berupa pupuk daun. Setelah bibit berumur 4 - 5 minggu atau berdaun lebih dari 5 helai, pindahkan ke pot.

LAKUKAN PEREMPELAN Agar tabulampot cabe dapat tampil subur dan buahnya ranum memikat
hati, ada beberapa cara yang bisa Anda ikuti.
1. Pot dan Media Siapkan pot yang bergaris tengah sekurang-kurangnya 15 cm. Pilihan media cukup banyak, antara lain abu sekam dan pupuk kandang (1 : 1), tanah subur, pasir, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1). Tambahkan TSP dan KCI ke dalam campuran media tersebut. Selanjutnya, bagian dasar pot diberi selapis pecahan bata merah, dan beri media tanam hingga 3 - 5 cm dari bibir pot.
2. Tanam dan Siram Keluarkan bibit dari polibag, dan ikutkan sebagian tanahnya. Lalu, tanam bibit tersebut, dan padatkan permukaan media. Usahakan pada fase awal terkena langsung sinar matahari di pagi hari, namun hindarkan dari cahaya matahari siang terik. Jangan lupa, rajin-rajinlah menyiram.
3. Sering dipupuk Mengingat tabulampot cabe wadahnya terbatas, berikan pupuk yang habis tercuci pada saat penyiraman. Atau larutkan pupuk tersebut dalam air. Misalnya pada fase pertumbuhan vegetatif, berilah 10 gram Urea yang dilarutkan dalam 10 liter air. Lalu pada fase generatif (pembentukan bunga dan buah), berikan campuran Urea, TSP dan KCI (1 : 2 : 1) sebanyak 3 gram/liter air. Waktu pemupukan sesering mungkin, yakni sekitar 2 - 3 mingu sekali. Di samping itu, ada baiknya juga pupuk daun pada umur 10 - 14 hari, dan semprotkan pada bagian bawah daun.
4. Pasanglah Ajir Agar batang cabe bisa berdiri kokoh, bantulah dengan ajir. Caranya, pasang miring ajir membentuk sudut 45 derajat dengan batang cabe.
5. Rajinlah Merempel Kegiatan merempel adalah khas untuk tanaman cabe. Ada 3 model perempelan, yakni perempelan runas samping, perempelan bunga, dan perempelan daun. Acapkali, pada tanaman cabe terdapat tunas-tunas samping yang tumbuh justru ketika tanaman belum memasuki fase pembungaan. Karena itu, tunas samping harus dirempel, dan biasanya dilakukan 2 - 3 kali. Di samping itu, tak ada jeleknya bunga pertama dan bunga kedua dirempel pula. Kenapa? Agar diperoleh mutu buah yang baik dan produktivitasnya tinggi. Juga, lakukan perempelan daun-daun yang tumbuh di bawah cabang utama ketika tanaman minimal telah berumur 2,5 bulan.

Cara Mudah Membuat Tanaman Buah Dalam Pot (Tabulampot)

Metode budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) dibuat untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan. Tanaman buah biasanya berpostur tinggi dengan perakaran dalam. Tanaman ini membutuhkan ruang tumbuh yang cukup luas. Hal ini tentunya menyulitkan bagi penduduk perkotaan dengan lahan yang sangat terbatas.
Sejak tahun 1970-an, berkembang metode menanam buah dalam lingkungan terbatas atau tabulampot. Metode ini terus berkembang, baik dari sisi teknologi maupun jumlah jenis tanaman buah yang bisa dijadikan tabulampot.
Saat ini, banyak bermunculan nursery-nursery penyedia bibit tabulampot. Dalam berbagai pameran pertanian, tabulampot selalu jadi incaran favorit. Pehobi tertarik pada tabulampot untuk alasan fungsional maupun estetika.

Jenis-jenis tabulampot

Hampir semua jenis tanaman buah bisa tumbuh dalam bentuk tabulampot. Tapi tidak semua tabulampot bisa menghasilkan buah. Karena meskioun bisa tumbuh subur, jenis-jenis tanaman tertentu belum bisa berbuah dalam lingkungan tabulampot.
Terdapat beberapa jenis tanaman buah yang lazim dijadikan tabulampot. Tingkat keberhasilan berbuahnya dikategorikan mudah, sulit dan belum berhasil. Beberapa tanaman dengan kategori mudah berbuah diantaranya jeruk, belimbing, sawo, mangga, jambu biji dan jambu air. Tanaman yang sulit berbuah antara lain rambutan, lengkeng, manggis, duku dan jambu bol.  Sedangkan tanaman alpukat dan durian masih belum berhasil berbuah optimal dalam lingkungan tabulampot.
tabulampot

Menyiapkan bibit tabulampot

Bibit tanaman merupakan hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan tabulampot. Terdapat dua jenis bibit tanaman, yaitu bibit hasil perbanyakan generatif (dari biji) dan bibit hasil perbanyakan vegetatif (cangkok, okulasi dan penyambungan).
Untuk budidaya tabulampot sebaiknya gunakan bibit hasil perbanyakan vegetatif. Kelebihan bibit hasil vegetatif yaitu sifat tanamannya bisa dipastikan, karena sama dengan sifat induknya. Sehingga keberhasilannya lebih mudah diprediksi. Selain itu, bibit perbanyakan vegetatif lebih cepat berbuah. Kekurangan bibit jenis ini akarnya kurang kuat sehingga tanaman mudah roboh atau mengalami kekeringan.
Tingkat keberhasilan tabulampot sangat ditentukan oleh bibit tanaman. Oleh karena itu pilihlah bibit yang kita tahu persis sifat-sifatnya. Bebas dari hama dan penyakit tanaman. Untuk memastikannya biasanya bibit tersebut telah memiliki sertifikat dari komunitas atau lembaga terpercaya.
Cara mudah membuat tabulampot

Menyiapkan media tanam

Media tanam tabulampot bermacam-macam. Media tanam berfungsi sebagai tempat tumbuhnya akar dan untuk menopang postur tanaman. Media tanam tabulampot harus bisa menyimpan air dan memasok nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
Media tanam yang sering digunakan para pehobi antara lain campuran tanah, kompos dan arang sekam dengan komposisi 1:1:1. Bisa juga campuran tanah, pupuk kambing dan sekam padi dengan komposisi 1:1:1. Untuk menekan biaya, gunakan bahan baku yang banyak ditemui di lingkungan sekitar.
Tanah dan material organik di daerah tropis biasanya memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Bila bahan-bahan media tanam tersebut terlalu asam campurkan kapur pertanian atau dolomit ke dalamnya.
Setelah menyiapkan media tanam, selanjutnya siapkan pot sebagai wadah. Jenis pot bisa terbuat dari tanah liat, logam (drum), plastik, semen atau kayu. Pot dari berbahan tanah liat dan kayu sangat baik untuk tabulampot karena memiliki pori-pori sehingga kelembaban dan temperatur media tanam lebih stabil. Namun kelemahannya bahan-bahan tersebut tidak tahan lama.
Wadah tabulampot yang baik harus memiliki kaki atau alas yang memisahkan dasar pot dengan tanah. Hal ini penting untuk aliran drainase dan memudahkan pengawasan agar akar tanaman tidak menembus tanah.

Penanaman bibit tanaman

Berikut ini langkah-langkah untuk menanam bibit tanaman ke dalam wadah tabulampot:
  • Siapkan bahan-bahan media tanam, kemudian ayak dan buang kerikil-kerikil yang ada didalamnya. Campurkan bahan-bahan itu hingga merata.
  • Siapkan pot dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran tanaman. Sebaiknya dimulai dari ukuran pot yang kecil. Sehingga apabila tanaman semakin besar pot bisa diganti, sekaligus sebagai penanda untuk meremajakan media tanam.
  • Letakkan pecahan genteng pada dasar pot, satu lapis saja. Kemudian letakkan juga satu lapis ijuk atau sabut kelapa.
  • Kemudian isi dengan media tanam yang sudah disiapkan hingga setengah tinggi pot.
  • Untuk mengurangi penguapan, pangkas sebagian daun atau batang bibit tanaman. Kemudian buka polybag bibit tanaman, letakkan tepat ditengah-tengah pot. Timbun dengan media tanam hingga pangkal batang.
  • Padatkan media tanam di sekitar pangkal batang, pastikan tanaman sudah kuat tertopang. Siram dengan air untuk mempertahankan kelembaban.
  • Simpan tabulampot di tempat yang agak teduh untuk beradaptasi. Siram setiap pagi atau sore hari. Setelah satu minggu, letakkan tabulampot di tempat terbuka.

Perawatan tabulampot

a. Penyiraman

Tabulampot yang telah jadi harus di letakkan di tempat terbuka dan terkena cahaya matahari sepenuhnya. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan setiap hari, bisa pagi atau sore hari. Pada musim hujan penyiraman hanya dilakukan apabila media tanam terlihat kering. Penyiraman menggunakan selang air atau gembor.
Bila jumlah tabulampot banyak, penyiraman bisa diprogram dengan membangun sistem irigasi. Sistem irigasi yang paling cocok adalah irigasi tetes. Irigasi ini irit tenaga kerja, hemat air dan mudah dikontrol. Namun memerlukan investasi yang cukup besar. Silahkan baca tentang  irigasi tetes di sini.

b. Pemangkasan

Setidaknya terdapat tiga tujuan pemangkasan tabulampot yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi dan pemangkasan peremajaan. Pemangkasan bentuk dilakukan untuk membentuk tajuk baru dan mengatur postur tanaman agar sinar matahari bisa menembus semua bagian tanaman. Selain dua fungsi itu, pemangkasan bentuk juga terkait dengan estetika.
Salah satu teori umum dalam memangkas bentuk tabulampot adalah 1-3-9. Artinya, dalam setiap 1 batang primer terdapat maksimum 3 batang sekunder dan dalam 1 batang sekunder maksimum terdapat 3 batang tersier. Batang yang dipilih untuk dibiarkan tumbuh adalah yang sehat dan kuat, sekaligus juga memiliki unsur estetika pada tanaman.
Pemangkasan produksi berkaitan dengan fungsi produksi tanaman. Pemangkasan dilakukan terhadap tunas air untuk merangsang pembungaan. Selain itu, pemangkasan dilakukan terhadap batang yang terlihat berpenyakit.
Terakhir pemangkasan peremajaan, dilakukan terhadap tanaman yang telah tua. Pada tabulampot yang sudah tua biasanya dilakukan penggantian media tanam dan pot (repotting). Pada fase ini, beberapa cabang perlu dipangkas. Bahkan pada kasus-kasus tertentu hanya menyisakan batang primer saja.

c. Pemupukan

Media tabulampot memiliki cadangan nutrisi yang terbatas. Oleh karena itu pemupukan menjadi hal yang sangat vital. Pemupukan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam. Selanjutnya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali.
Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk organik. Jenisnya bisa kompos, pupuk kandang atau pupuk organik cair. Meskipun kandungan haranya tidak seakurat pupuk kimia, pupuk organik memiliki unsur hara yang lebih lengkap. Selain itu penambahan bahan-bahan organik akan merangsang aktivitas biologi dalam media tanam.
Pupuk kimia diperlukan pada saat-saat tertentu saja. Misalnya pada saat pembungaan dan pembuahan dimana tanaman memerlukan unsur-unsur hara makro seperti P dan K dalam jumlah banyak. Dan beberapa unsur mikro seperti Ca, Mn, Fe, dll. Dalam pupuk kimia unsur-unsur tersebut bisa dipastikan takarannya.

d. Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada tabulampot sebaiknya dilakukan sejak dini, yakni sejak memilih bibit. Bibit unggul biasanya memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu. Belilah bibit dari sumber yang terpercaya dan memiliki sertifikat bibit.
Pencegahan serangan hama dan penyakit juga bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan media tanam dan kebun. Gulma dan semak belukar disekitar kebun bisa menjadi sumber hama dan penyakit.
Bila tabulampot sudah kadung terserang hama atau penyakit, langkah pertama bisa diberantas secara manual. Misalnya dengan memungut ulat yang menyerang atau memangkas dahan yang terkena penyakit.
Pada saat tabulampot berbuah, lindungi buah dengan plastik atau jaring pelindung. Atau juga bisa dengan memasang perangkap hama, seperti penggunaan hormon feromon untuk memerangkap lalat buah.
Penyemprotan tabulampot dengan pestisida menjadi dilema. Biasanya tabulampot ditanam di pekarangan yang dekat dengan pemukiman. Pestisida kimia tentunya akan sangat berbahaya dan mencemari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, gunakan selalu pestisida organik. Silahkan baca tentang pestisida organik.
Apabila sangat terpaksa, penyemprotan dengan pestisida kimia bisa dilakukan. Lakukan dengan hati-hati, baca aturan dan dosis pakainya secara seksama. Penyemprotan hendaknya dilakukan secara terbatas.

e. Pergantian media dan pot

Tabulampot yang telah mencapai ukuran tertentu perlu dipindahkan. Ruang tabulampot harus cukup untuk menopang ruang gerak tanaman. Pemindahan dilakukan sekaligus dengan pergantian media tanam.
Pergantian media tanam dalam tabulampot tidak hanya berfungsi memindahkan tanaman pada pot yang lebih besar saja. Perlu juga dilakukan pemangkasan peremajaan. Misalnya, pemangkasan akar tanaman. Akar tanaman yang terus tumbuh akan membuat media tanam menjadi padat.
Akar yang panjangnya lebih dari 25 cm harus dipangkas. Kepadatan akar juga harus dikurangi. Bersamaan dengan pemangkasan akar, daun dan batang juga dipangkas untuk mengurangi penguapan.
Berikut ini video tutorial yang diunggah oleh tharzzan, menggambarkan dengan jelas langkah demi langkah membuat tabulampot:


Berikut kisah penghoby tambulampot :


Sumber : http://alamtani.com/tabulampot.html

Tabulampot Rambutan

Banyak orang enggan menanam tabulampot rambutan. Alasannya, susah berbuah. Padahal, jika tahu caranya, tabulampot rambutan pun bisa berbuah lebat, lho.

Tanaman buah dalam pot (tabulampot) kini sudah tak asing lagi bagi para pecinta tanaman. Aneka tanaman buah yang dulu hanya ditanam di halaman yang luas, kini banyak ditanam orang di dalam pot. Namun, sepertinya tak banyak orang yang melirik tabulampot rambutan. Kenapa?

Jujur diakui, tabulampot rambutan seringkali mogok berbuah, bahkan tak pernah berbuah sekali pun. Malah, mati sebelum berbuah. Padahal, tanaman rambutan dalam pot sebetulnya bisa menghasilkan buah, asal kita tahu rahasianya.

Rambutan (Nephellium lappaceum) berasal dari Malaysia dan Indonesia. Kerabat dekatnya antara lain leci (N. litchi) dan kepulasan (N. mutabile). Sentral tanaman rambutan tersebar di berbagai daerah, seperti Bogor, Subang, Bekasi, Purwakarta, Semarang, Banyumas, Purbalingga, Purworejo, Magelang, Jember, Blitar, dan Lumajang, Sleman, Bantul serta DKI Jakarta, khususnya di Pasar Minggu.

Di negeri kita banyak varietas rambutan, entah itu varietas lokal maupun varietas unggul. Untuk varietas lokal, sebut misalnya Aceh Gundul, Aceh Gula Batu, Aceh Gendut, Aceh Kuning, Aceh Padang Bulan, Aceh Garing, Aceh Pao Pao, Aceh Kering Manis, Simacan, Sitangkue, Sinyonya, Brahrang, Hape, dan sebagainya. Sedangkan yang unggul, sekurang-kurangnya ada 8 varie­tas, antara lain Rapiah, Lebak Bulus, Anta Lagi, Sibongkok, Sibatuk Ganal, Garuda, Nona, dan Binjai.



PILIH VARIETAS BINJAI

Pohon Rambutan Pertanyaannya, varietas mana yang akan kita pilih untuk ditanam dalam pot? Belajar dari pengalaman, ternyata varietas Binjai yang “cocok” ditanam dalam pot. Alasannya, lebih cepat berbuah dibandingkan varietas lain. Apalagi jika bibitnya berasal dari okulasi, yang bisa berbuah kurang dari setahun. Varietas Binjai juga memiliki keindahan tersendiri. Ia memiliki 4 – 5 cabang dan karena itu lebih rimbun. Buahnya juga ngelotok dan manis.

Biasanya, wadah tanam tabulampot adalah pot dari tanah liat. Ukurannya tergantung kondisi bibit yang hendak ditanam. Misalnya, untuk bibit setinggi 50 cm, bisa digunakan pot berdiameter 30 cm.

Namun, untuk tabulampot rambutan, sebaiknya gunakan wadah tanam berupa drum. Ukuran drum sebaiknya agak besar, sebab ukuran bibitnya juga agak besar. Sebagai pedoman, gunakan bibit rambutan Binjai setinggi 60 – 75 cm dengan diameter drum sekitar 50 – 60 cm. Drum ini harus diberi lubang-lubang kecil di bagian dasarnya, kemudian diberi ganjalan berupa batu bata atau batako, sehingga pembuangan air penyiraman lancar. Selama ini, banyak variasi media tanam untuk tabulampot.

Misalnya campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1 : 2. Ada juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Ma sih ada lagi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2, atau campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 1 : 1.

Yang perlu diketahui, tabulampot sangat sensitif terhadap media tanam yang memadat, yang mengakibatkan daun cepat mengering lalu rontok. Oleh karena itu, disarankan menggunakan media tanam berupa pupuk kandang seluruhnya. Lebih baik lagi jika pupuk kandang tadi diberi insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 gram per drum. Ini untuk mencegah serangan hama.

TAHAP-TAHAP MEMASUKKAN PUPUK KANDANG KE DRUM

Pertama, masukkan pecahan batu bata ke dasar drum hingga mencapai seperempat bagian drum.

* Di atas lapisan batu bata, isikan selapis ijuk atau humus atau
daun-daun kering.
* Masukkan pupuk kandang hingga mencapai 2 cm di bawah bibir
drum.
* Siram hingga cukup basah.

MOGOK BERBUAH?

Keluhan sering muncul ketika tabulampot rambutan tak mau berbuah lagi. Bahkan, seumur-umur hanya berbuah sekali dan setelah itu macet. Padahal, perawatan sudah dilakukan. Termasuk penyiraman dan pemupukan. Jika menghadapi problema seperti itu, jangan cepat-cepat putus asa! Tanaman masih bisa direkayasa, kok.

Caranya, keluarkan tanaman dari drum, amati kondisi fisiknya, lalu pangkas sebagian daunnya. Setelah itu, tanam langsung di tanah. Sementara itu, siapkan juga media tanam (pupuk kandang) yang baru. Bila sudah tampak tunas-tunas baru, pindahkan tanaman dari tanah lapang ke drum. Gampang kan ?

CARA MENANAM BIBIT DALAM POT

Siram media tanam dalam polybag, lalu sobek, dan keluarkan bibit bersama tanahnya. Bila akar, daun, dan cabang tampak panjang, sebaiknya dipangkas.

1. Gali media dalam drum membentuk lubang. Sesuaikan ukuran lubang dengan ukuran perakaran bibit rambutan.
2. Tambahkan pupuk NPK, dengan perbandingan 15 : 15 : 15, sebanyak 100 gram, lalu aduk-aduk hingga merata.
3. Masukkan bibit ke lubang dalam drum. Pelan-pelan, tekan tanah pada bagian pangkal bibit pelan-pelan.
4. Siram sampai cukup basah.
5. Untuk sementara waktu, beri tutup kantung plastik transparan dan
letakkan di tempat yang teduh. Jika sudah tumbuh tunas-tunas baru,
singkirkan tutup.

TIPS PERAWATAN

Faktor perawatan kerap diabaikan. Padahal, sangat penting dan kerap jadi kunci keberhasilan penanaman tabulampot rambutan.

Perawatan apa saja yang harus kita lakukan?
1. Penyiraman
Di musim kemarau, penyiraman sangat perlu. Jika memakai air PAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam, dan baru esoknya disiramkan. Namun, usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam. Genangan air bisa merangsang timbulnya penyakit busuk akar.

2.Penggemburan
Ingat, usahakan media tanam tidak memadat. Pemadatan media biasanya terjadi karena penyiraman yang berlebihan. Setelah itu, lakukan penggemburan dengan menggunakan sekop kecil. Hati-hati, jangan sampai merusak akarnya.

3.Pemupukan
Meski media tanam menggunakan pupuk kandang, pupuk organik masih diperlukan. Sampai umur 2 tahun, setiap 4 bulan, tambahkan NPK (15:15:15) sebanyak 25 gram per drum. Sejak umur 3 tahun dan seterusnya, setiap drum diberi 100 gram NPK (15:15:15). Caranya, benamkan pupuk NPK sedalam 10 cm, lalu siram hingga cukup basah.

4.Pemangkasan
Pemangkasan tabulampot rambutan di samping untuk membentuk habitus (kanopi) tanaman agar tampak pendek, juga agar cabang dan pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan perdana dilakukan saat tanaman berumur kurang dari setahun, atau tinggi batang sekitar 75 – 100 cm dari permukaan drum. Cara pemangkasan adalah, untuk pemangkasan perdana, pilih 3 cabang primer. Bila panjang cabang primer mencapai 50 cm, pangkas ujungnya hingga tumbuh cabang-cabang sekunder. Pilih hanya tiga cabang sekunder per cabang primer. Selanjutnya, pangkas ujung cabang sekunder sampai tumbuh cabang tersier, dan pilih hanya tiga cabang tersier. Nah, dari ketiga cabang tersier inilah akan terjadi pembungaan dan pembuahan.

Sumber : https://tabulampot.wordpress.com/2007/01/05/rambutan-sarat-buah-meski-dalam-pot/

Trik Supaya Tabulampot Lengkeng Rajin Berbuah

Tabulampot lengkeng (Dimocarpuslongan (Lour.) Steud.) sudah banyak dibudidayakan karena buahnya yang digemari oleh banyak orang. Jenis lengkeng yang banyak dibudidayakan di antaranya gading, diamond river, pingpong, dan phuangray karena mudah dibuahkan.


Berikut cara untuk memicu munculnya bunga pada tabulampot lengkeng.
  • Pemupukan
    Pemupukan pada tabulampot lengkeng yang sulit berbuah dapat  dilakukan dengan menambahkan pupuk cair pada KClO3 (potasium klorat), NPK, dan larutan asam amino. Dosisnya ialah 1 liter larutan pupuk cair KClO3, 1 kg NPK, dan seperempat liter larutan asam amino.Aduk ketiga jenis pupuk tersebut hingga rata. Pisahkan 15 bagian, lalu masing-masing bagian yang sudah dipisahkan dilarutkan kembali pada 2 liter air. Larutan yang sudah siap segera disiramkan ke tabulampot yang memiliki volume 200 liter. Lakukan perlakuan cukup sekali saja.

    Selain itu, pemupukan dapat pula dilakukan dengan menyemprotkan air cucian daging karena mengandung protein atau minyak ikan yang terdapat tritopan. Tritopan adalah asam amino yang menjadi bahan dasar pembentuk auksin. Auksin berguna untuk memacu munculnya bunga. Aplikasi air cucian daging dapat langsung disiramkan ke tanaman tanpa perlakuan tambahan. Sementara itu, aplikasi minyak ikan harus dilarutkan dahulu dengan perbandingan 5 ml minyak ikan dengan 500 ml air. Campur merata larutan tersebut lalu siramkan ke media tanam.
  • Perundukan
    Lakukan perundukan dengan menarik salah satu cabang sekunder yang sehat ke bawah dengan menggunakan kawat. Sebaiknya tambahkan sabut kelapa di antara cabang dan kawat yang digunakan untuk menghindari luka akibat goresan dari kawat. Bakal bunga akan muncul setelah beberapa minggu dilakukan perundukan.
  • Pemangkasan
    Lakukan pemangkasan pada tabulampot lengkeng dengan pola 1-3-9. Cabang utama yang dipertahankan satu saja dengan panjang 75-100 cm, sedangkan cabang primer dan cabang sekunder masing-masing berjumlah tiga dan sembilan buah. Supaya tabulampot lengkeng memiliki bentuk kanopi yang kokoh, cabang primer dan cabang sekunder sebaiknya memiliki panjang 30-50 cm. Pemangkasan pada cabang sekunder  akan menghasilkan tunas-tunas baru sebagai cabang tersier yang diiringi dengan munculnya bunga-bunga majemuk yang akan menjadi buah. Lakukan juga pemangkasan pada tunas-tunas air, cabang yang tidak produktif, cabang yanng ternaungi, dan cabang kering agar matahari dapat masuk merata dan menembus tajuk tanaman untuk proses fotosintesis.
  • Stres air
    Biarkan tanaman kering hingga media tanaman tampak layu karena tidak mendapat penyiraman selama 3-5 hari. Jika media sudah terlihat kering dan menunjukkan gejala layu, segera lakukan penyiraman hingga tanaman kembali segar. Ulangi perlakuan tersebut selama 4-6 minggu atau hingga muncul bakal bunga. Selama perlakuan stres air, tempatkan tabulapot lengkeng di tempat terbuka yang mendapat sinar matahari secara langsung.
  • Jenis ZPT
    Jenis ZPT yang digunakan ialah paklobutrazol yang dapat diperoleh dari larutan Cultar 250 SC. Dengan cara, larutkan 5 ml Cultar 250 SC ke dalam 1 liter air. Larutan tersebut disemprotkan secara perlahan-lahan ke seluruh permukaan daun hingga merata. Jika dalam sebulan atau lebih usai penyemprotan bakal bunga tidak kunjung muncul, ulangi kembali perlakuan tersebut.


*************************************


Budidaya Buah Lengkeng Dengan Media Pot - Menanam kelengkeng di pot tentu berbeda caranya dibanding menanamnya di atas tanah halaman atau kebun. Butuh trik tersendiri untuk menanam dalam pot agar tanaman tumbuh subur, meski media tanam dan haranya terbatas.
Buah lengkeng sangat digemari oleh banyak orang karena rasanya yang manis dan juga memiliki aroma tertentu yang membuat semakin nikmat rasanya.  Daging buah lengkeng ada yang tebal ada juga yang tipis alias lebih besar biji.  Pohon lengkeng tergolong tidak terlalu tinggi namun memiliki daun yang lebat.  Buah dari tanaman ini biasanya berada diujung ranting.  (alhamdulillah hujan turun disela-sela saya menulis blog ini, kebetulan tadi pagi habis memangkas daun dan batang pohon stroberi yang kurang bagus dan terlihat kering, selain itu daun pohon jambu bol jamaica yang terserang hama juga saya pangkas, semoga dengan turunnya hujan ini menjadikan kedua pohon tersebut segar kembali.

Tanaman lengkeng yang cocok untuk tabulampot, menurut buku ini adalah jenis pohon lengkeng dataran rendah.  Jenis lengkeng dataran rendah adalah diamond river, pingpong, kristal, itoh, aroma duren, dan puang rai.  pemilihan bibit untuk tabulampot sebaiknya dipilih yang dikembang biakkan secara vegetatif seperti cangkok, okulasi dan sambung, dengan tujuan agar tanaman lebih cepat berbuah.

Langkah-langkah menanam lengkeng didalam pot adalah:
1. siapkan pot plastik berdiameter 45-50 cm.  pastikan ada beberapa lubang dibagian bawahnya
2. Letakkan pecahan genting atau bata merah setebal 5 cm di dasar pot.  tujuannya agar dapat mengalirkan air siraman
3. masukkan campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir atau sekam mentah dengan perbandingan 1 : 2 : 1 hingga ketinggian setengah pot.  (maksudnya jika tanahnya 1 sekop, maka pupuk kandangnya 2 sekop dan pasir atau sekam mentahnya 1 sekop)
4. Masukkan bibit pohon lengkeng tepat ditengah pot, lalu tambahkan kembali media tanam hingga mendekati bibir pot.
5. Siram dengan air hingga air keluar dari dasar pot.  selanjutnya, letakkan tanaman lengkeng di tempat yang ternaungi atau teduh selama beberapa waktu.

Setelah tanaman lengkeng dipindahkan dalam pot, langkah selanjutnya adalah perawatan harian yang meliputi penyiraman, pemupukkan, pencahayaan, atau pemangkasan apabila jika pohon sudah mulai besar dan siap berbuah.  Selain itu penggantian media tanam juga perlu dilakukan setiap setahun satu kali, hal ini bertujuan agar tanaman lengkeng tetap produkif karena mendapatkan nutrisi dari media tanam yang baru.  Penggantian media tanam tidak seluruhnya, akan tetapi disisakan media tanam yang sebelumnya untuk ditambah dengan media tanam yang baru.

Agar Berbuah Lebat
1. Memangkas
Saat tajuk pertama muncul, disarankan untuk dipangkas agar buah yang dihasilkan bisa rindang alias tidak tinggi.
2. Menyiram
Cara menyiram harus benar, karena volume media tanamnya tak banyak. Jadi, dua hari sekali harus disiram sampai airnya keluar meluber dari pot bagian bawah.
3. Pupuk
Selalu gunakan pupuk kandang, agar hasilnya lebih baik dan pohon tumbuh subur. Untuk tabulampot, setiap 3 bulan sekali (minimal 6 bulan sekali) ambil separuh tanah yang jadi media tanamnya, masukkan pupuk kandang ke dalam pot dan tutup lagi dengan sedikit tanah. Siram dengan air sampai tanah benar-benar basah.
Cara ini akan membuat daun muda cepat tumbuh, sehingga cepat berbunga. Pupuk kimia seperti NPK boleh digunakan, tapi cukup sedikit saja, sebulan sekali. Penggunaan potasium klorat yang dikenal sebagai bahan peledak juga bisa digunakan untuk merangsang pertumbuhan bunga, walaupun lengkeng sebetulnya tetap bisa berbuah tanpa harus dirangsang. Penggunaan pupuk kimia justru membuat tanah jadi keras.
4. Perontokan
Umumnya, lengkeng pada pembuahan pertama dagingnya kurang tebal. Ketebalan daging baru bisa dilihat setelah lengkeng 2-3 kali berbuah. Agar mendapatkan buah yang maksimal, rontokkan bunga yang pertama kali muncul. Sehingga, cabang akan bertambah dan bunga akan makin banyak. Bila bunga kedua sudah muncul tapi cabang belum ada, bunga bisa kembali dirontokkan.
5. Ganti Media
Masa produktif tabulampot lengkeng adalah usia 3 – 10 tahun. Agar tetap produktif selama masa itu, setidaknya setahun sekali ganti media tanamnya agar tidak keras, atau beri pupuk kandang.
6. Cangkok
Tabulampot yang sudah tinggi dan besar bisa dicangkok untuk dijadikan beberapa tanaman baru. Sehingga cabang yang tumbuh tak akan besar, karena bagian atasnya sudah dipangkas dan pohon jadi rimbun. 

Rahasia Tabulampot Rajin Berbuah


Pernah merasa tertipu karena tabulampot yang berbuah lebat saat dibeli kemudian tidak mau berbuah lagi? Kuncinya hanya nutrisi.
Tergoda rimbunnya buah yang menggantung pada tanaman dalam pot (tabulampot) saat pameran banyak dialami para pecinta tanaman. Memang untuk memikat pembeli, pedagang memajang tabulampotnya yang berbuah lebat nan menggiurkan dddipetik. Namun, setelah dibeli dan buahnya habis dipetik, ternyata tabulampot seperti ngambek berbuah. Pembeli pun merasa heran, kesal, bahkan merasa tertipu. Pada akhirnya, tabulampot hanya berfungsi sebagai penghijau halaman.

Tabulampot memang membutuhkan perhatian ekstra agar rajin berbuah. Menurut Windiartaji, praktisi tanaman buah, kunci perawatan tabulampot terletak pada pemberian nutrisi atau pupuk yang tepat. Pembeli juga harus mengenal jenis tanaman yang dipotkan. Tabulampot tanaman semusim seperti jambu dan jeruk akan berbuah terus menerus, sedangkan tanaman tahunan semacam lengkeng dan mangga akan mengalami masa istirahat sebelum mulai berbuah lagi.
Tanaman semusim misalnya, karena berbuah terus menerus, perlu dipupuk secara kontinu. Setiap bulan pada minggu pertama, berikan pupuk daun semprot, minggu kedua berikan pupuk kocor, lalu minggu ketiga disemprot pestisida. Begitu seterusnya. “Dua atau tiga bulan sekali kita berikan pupuk anorganik, seperti NPK. Dosisnya tergantung besarnya tanaman. Sekitar 300 gram sampai 1 kg per pot” ujarnya saat ditemui AGRINA di rumahnya di kawasan Cipaku, Bogor. Selanjutnya, saat mulai berbunga, tanaman dipasok pupuk dengan kandungan kalium tinggi seperti KNO3.
Berbeda dengan tanaman semusim, tanaman tahunan mengalami daur hidup yang lebih lama. Setelah semua buah habis dipanen, segera masukkan pupuk organik seperti pupuk kandang yang mengandung N tinggi. “Pupuk langsung diberikan, jangan ditunda, tanaman bisa stres karena nutrisinya diambil semua untuk pembentukan buah,” tambah pria yang akrab disapa Aji ini.
Pemberian pupuk organik ini berfungsi menetralisir residu dari bahan kimia. Menurut pria berusia 39 tahun ini, “Kalau kita beli dari pedagang itu menggunakan perangsang buah seperti paklobutrazol dan potassium chlorate (KCl), ini kimia keras dan residunya kuat. Jadi harus diberikan air yang cukup, dan pupuk yang ‘dingin’. Ya pupuk organik tadi.” Pilihan pupuk organik jadi yang tersedia di pasaran sebenarnya cukup baik. Namun, Aji menyarankan untuk memilih pupuk organik dari kotoran domba yang masih basah. Alasannya, kandungan unsur haranya masih utuh. Selain itu urin domba juga mengandung auksin (hormon tumbuh) yang baik untuk perakaran tanaman.
Akan lebih baik lagi jika pupuk organik itu dibuat sendiri. Caranya cukup sederhana, campurkan 120 kg atau 4 karung pupuk kandang, satu drum besar kotoran domba basah, ¼ drum besar air, satu liter bakteri fermentasi seprti EM4, 2 kg molasis atau gula pasir, dan satu liter auksin cair. Semuanya difermentasikan selama dua minggu, sambil sesekali diaduk. Saat digunakan, satu gayung pupuk dicampur dengan 5 liter air, baru dikocorkan ke tanaman.
Memasuki bulan ketiga, tanaman perlu diberikan pupuk dengan kandungan fosfor (P) dan kalium (K) yang tinggi untuk merangsang pembungaan. Biasanya menggunakan NPK. “Untuk tanaman tahunan, memang  perlu dikombinasikan antara pupuk organik dan anorganik. Tapi berikan pupuk anorganik yang nonresidu, sesuai dosisnya. Jangan sampai pada masa pembungaan diberikan pupuk organik, ya nggak mau berbuah,” jelas Aji.
Tahapan selanjutnya, setelah terbentuk pentil buah, berikan pupuk dengan kandungan K dan asam amino yang tinggi. Ini untuk mencegah kerontokan pentil buah dan mutu buah yang terbentuk juga akan bagus. Memasuki masa pembesaran buah, masukkan pupuk anorganik masih yang mengandung K dan asam amino tinggi, ditambah pupuk bermagnesium (Mg) tinggi. Kandungan Mg ini dibutuhkan untuk pembentukan gula buah, buah tidak menjadi mengkal, dan tidak pecah-pecah.
Perhatikan Media Tanam dan Air
Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam perawatan tabulampot adalah media tanam. Media tanam yang baik diaduk dari tanah, pupuk organik, dan sekam bakar. Komposisinya bisa 60:40:20 atau 40:30:30. Tanah yang baik adalah yang subur, gembur, dengan pH netral sekitar 6—7. “Usahakan pakai tanah yang diambil dari bawah pohon bambu. Bambu itu banyak unsur makro dan mikronya, (kandungan) humusnya juga tinggi. Jadi untuk tabulampot, gunakan tanah di bawah bambu,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor ini.
Bahan pot tabulampot yang baik terbuat dari keramik. Bahan keramik membuat tanah menempel pada pot sehingga perakaran tanaman juga akan terbentuk dengan baik. Dengan begitu, tanah di dalam pot tidak akan mengumpul di tengah dan mengeras. Tanah juga tidak terlalu lembap akibat cacing.
Untuk menjamin sirkulasi air tetap baik, lanjut Aji, bagian bawah pot dilubangi sebanyak 5 buah. Lubang tersebut lalu ditutup pecahan genteng. Pedagang banyak yang menggunakan styrofoam untuk menutup lubang, tapi hal itu akan menyebabkan lubang tersumbat sepenuhnya, tidak ada aliran air maupun udara yang dibutuhkan tanaman. “Kalau pakai genteng ‘kan lubangnya tidak mati, masih ada sela udara sedikit. Sirkulasi airnya juga akan lancar. Media tanam pun akan terjaga kelembapannya,” tuturnya.
Jika media tanam dan pot sudah terpenuhi, tinggal bagaimana kita menjaga kondisi media agar selalu sesuai kebutuhan tanaman. Kelembapan tanah yang terjaga dengan baik akan percuma jika kemasaman atau pH tanah tidak sesuai kebutuhan tanaman. Kemasaman ideal bagi tanaman adalah 6—7 atau netral. Tanah yang berasal dari daerah industri biasanya terlalu masam atau pH 4—5. Untuk menjaga pH tanah tetap dalam kisaran netral, yang paling sederhana dilakukan adalah menambahkan kapur pertanian (kaptan). “Jika pH tanah sudah bagus, apapun tanamannya pasti akan bagus, diberi pupuk juga akan terserap dengan sempurna,” tandas ayah tiga anak ini.
Jadi, dengan pemberian nutrisi dan perawatan yang tepat, Anda bisa mendapatkan tabulampot yang rajin berbuah tepat waktu. Semua tergantung kedisiplinan dan ketelatenan sang pemilik.

Tips Perawatan Tabulampot (Tanaman Buah Dalam Pot)

Budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) banyak disukai karena memiliki beberapa kelebihan / keuntungan terutama bagi penghobi tanaman buah yang tinggal di daerah perkotaan, diantaranya :
  1. Pemanfaatan lahan atau halaman sempit
  2. Mudah dipindah-pindah tanpa merusak tanaman
  3. Berfungsi sebagai tanaman hias
  4. Dapat diatur masa berbunga dan berbuah
Merawat tabulampot kadang membutuhkan seni tersendiri dan pemahaman lebih terhadap jenis tanaman, karena masing-masing tanaman memiliki karakteristik berbeda. Jadi perlakuannya juga berbeda.

Pada kesempatan ini kami bermaksud berbagi pengalaman dan mudah-mudahan berhasil.

Seperti kami sebutkan diatas, masing-masing tanaman memiliki karakteristik yang berbeda. Jadi disetiap halaman jenis tanaman kami akan menyajikan tips tersendiri untuk masing-masing tanaman. Tapi untuk halaman ini kami akan menyajikan tips perawatan tabulampot secara umum, yang dapat diaplikasikan untuk setiap jenis tanaman.

Media Tanam
Ada beberapa alternatif media tanam. Di Sri Wijaya Tani, kami biasa menggunakan campuran tanah(merah), pupuk kandang (kambing) dan sekam padi dengan perbandingan 1:1:1. Sekam padi gunanya lebih pada penggembur tanah, disamping kalau sudah hancur bisa jadi pupuk juga. Jadi kalau sekam tidak tersedia, campuran tanah dan pupuk saja juga bisa. Yang penting, media gembur atau bersifat forous.

Pemilihan Pot
Pemilihan ukuran pot disesuaikan dengan ukuran bibit yang akan ditanam. Jika bibit masih berukuran kecil, gunakan pot kecil. Tujuannya adalah, disamping menyangkut estetika, penggunaan ukuran pot yang bertahap, nantinya akan memudahkan dalam penggantian media tanam. Maksudnya, pada saat media tanam sudah waktunya ditambah atau diganti, dapat dilakukan bersamaan dengan penggantian pot ke ukuran yang lebih besar.

Penyiraman
Penyiraman dapat dilakukan setiap hari kecuali media tanam masih basah. Penyiraman bisa pagi atau sore. Tapi sebaiknya, jika pagi (sebelum jam 8 pagi) ya pagi terus, kalau sore (setelah jam 4 sore) ya sore terus.

Pemupukan
Pemupukan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali, atau minimal dua kali setahun yaitu pada awal musim hujan dan awal musim kemarau. Pakailah selalu pupuk organik. Gunakan pupuk kimia secara bijak. Artinya, penggunaan pupuk kimia hanya pada waktu dan dosis yang memang dibutuhkan, seperti pada proses pembungaan/pembuahan yang memerlukan pupuk (unsur hara mineral makro) P dan K yang tinggi, serta pupuk yang mengandung unsur mikro seperti Ca, Mg, Mn, Zn, Fe dll. Unsur Mg misalnya, sangat mempengaruhi pembentukan klorofil tanaman, sehingga fotosintesis berjalan optimal. Selain itu Mg juga berfungsi sebagai katalisator penyerapan unsur P dan K.

Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk ; pembentukan tajuk baru, pemeliharaan, produksi dan peremajaan. Jadi dengan demikian, tanaman memerlukan beberapa tahap pemangkasan. Pada tanaman yang masih kecil, pemangkasan diperlukan untuk membentuk pencabangan. Pemangkasan pemeliharaan diantaranya memangkas cabang / tunas air dan cabang bagian dalam yang tidak terkena matahari langsung. Pemangkasan produksi diantaranya lebih berhubungan dengan tanaman yang memerlukan pemangkasan untuk merangsang pembungaan. Sementara pemangkasan peremajaan dilakukan pada tanaman yang sudah tua atau tanaman sudah terlalu besar untuk ukuran tabulampot.

Pembungaan/Pembuahan
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk merangsang pembungaan, seperti pemupukan, stress air, pelukaan dan pemberian zat pengatur tumbuh. Di Sri Wijaya Tani sebenarnya jarang dilakukan perlakuan untuk merangsang pembungaan karena hanya dengan pemupukan rutin pun seringkali sudah cukup. Namun jika memang diperlukan kami lebih memilih melakukan perlakuan pemupukan. Dan bahkan kami tidak merekomendasikan cara lain. Alasannya, cara-cara selain pemupukan memerlukan keterampilan lebih.

Perlakuan pemupukan dilakukan dengan cara :
  1. Sebelum dilakukan perlakuan, minimal 1 bulan sebelumnya tanaman telah diberi asupan yang cukup berupa pupuk organik. Pupuk organik yang diberikan bisa berupa pupuk organik murni seperti pupuk kandang atau kompos, bisa juga pupuk organik buatan yang tersedia dipasaran.
  2. Pastikan tanaman telah cukup umur dan tanaman benar-benar dalam keadaan sehat yang ditandai dengan pencabagan merata, warna daun hijau tua mengkilat dan tidak sedang terserang hama atau penyakit.
  3. Pastikan juga tanaman tidak sedang berpucuk/berdaun muda.
Setelah syarat-syarat 1 sampai 3 dipenuhi, perlakuan pemupukan untuk merangsang pembungaan dapat dilakukan dengan cara :
  • Berikan pupuk (unsur hara mineral makro) dengan kandungan Fosfor dan Kalium yang tinggi.
  • Jika pupuk yang digunakan tidak mengandung unsur mineral mikro, tambahkan unsur hara mineral mikro seperti Ca, Mg, Zn, dan lain-lain sebagai pelengkap.
  • Jika tanaman sudah mengeluarkan bunga, berikan pupuk dengan kandungan K yang lebih tinggi.
  • Sampai buah matang, ulangi pemberian pupuk berkandungan K yang cukup. Dengan demikian akan diperoleh buah yang lebih besar dan manis.
Pengendalian Hama
Untuk menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit, dapat saja dilakukan penyemproran anti hama / penyakit secara rutin. Gunakanlah pestisida organik.

Penempatan Tanaman
Tempatkan tanaman di lokasi yang mendapat sinar matahari langsung minimal 8 jam per hari.