Rabu, 10 Februari 2016

Rahasia Tabulampot Rajin Berbuah


Pernah merasa tertipu karena tabulampot yang berbuah lebat saat dibeli kemudian tidak mau berbuah lagi? Kuncinya hanya nutrisi.
Tergoda rimbunnya buah yang menggantung pada tanaman dalam pot (tabulampot) saat pameran banyak dialami para pecinta tanaman. Memang untuk memikat pembeli, pedagang memajang tabulampotnya yang berbuah lebat nan menggiurkan dddipetik. Namun, setelah dibeli dan buahnya habis dipetik, ternyata tabulampot seperti ngambek berbuah. Pembeli pun merasa heran, kesal, bahkan merasa tertipu. Pada akhirnya, tabulampot hanya berfungsi sebagai penghijau halaman.

Tabulampot memang membutuhkan perhatian ekstra agar rajin berbuah. Menurut Windiartaji, praktisi tanaman buah, kunci perawatan tabulampot terletak pada pemberian nutrisi atau pupuk yang tepat. Pembeli juga harus mengenal jenis tanaman yang dipotkan. Tabulampot tanaman semusim seperti jambu dan jeruk akan berbuah terus menerus, sedangkan tanaman tahunan semacam lengkeng dan mangga akan mengalami masa istirahat sebelum mulai berbuah lagi.
Tanaman semusim misalnya, karena berbuah terus menerus, perlu dipupuk secara kontinu. Setiap bulan pada minggu pertama, berikan pupuk daun semprot, minggu kedua berikan pupuk kocor, lalu minggu ketiga disemprot pestisida. Begitu seterusnya. “Dua atau tiga bulan sekali kita berikan pupuk anorganik, seperti NPK. Dosisnya tergantung besarnya tanaman. Sekitar 300 gram sampai 1 kg per pot” ujarnya saat ditemui AGRINA di rumahnya di kawasan Cipaku, Bogor. Selanjutnya, saat mulai berbunga, tanaman dipasok pupuk dengan kandungan kalium tinggi seperti KNO3.
Berbeda dengan tanaman semusim, tanaman tahunan mengalami daur hidup yang lebih lama. Setelah semua buah habis dipanen, segera masukkan pupuk organik seperti pupuk kandang yang mengandung N tinggi. “Pupuk langsung diberikan, jangan ditunda, tanaman bisa stres karena nutrisinya diambil semua untuk pembentukan buah,” tambah pria yang akrab disapa Aji ini.
Pemberian pupuk organik ini berfungsi menetralisir residu dari bahan kimia. Menurut pria berusia 39 tahun ini, “Kalau kita beli dari pedagang itu menggunakan perangsang buah seperti paklobutrazol dan potassium chlorate (KCl), ini kimia keras dan residunya kuat. Jadi harus diberikan air yang cukup, dan pupuk yang ‘dingin’. Ya pupuk organik tadi.” Pilihan pupuk organik jadi yang tersedia di pasaran sebenarnya cukup baik. Namun, Aji menyarankan untuk memilih pupuk organik dari kotoran domba yang masih basah. Alasannya, kandungan unsur haranya masih utuh. Selain itu urin domba juga mengandung auksin (hormon tumbuh) yang baik untuk perakaran tanaman.
Akan lebih baik lagi jika pupuk organik itu dibuat sendiri. Caranya cukup sederhana, campurkan 120 kg atau 4 karung pupuk kandang, satu drum besar kotoran domba basah, ¼ drum besar air, satu liter bakteri fermentasi seprti EM4, 2 kg molasis atau gula pasir, dan satu liter auksin cair. Semuanya difermentasikan selama dua minggu, sambil sesekali diaduk. Saat digunakan, satu gayung pupuk dicampur dengan 5 liter air, baru dikocorkan ke tanaman.
Memasuki bulan ketiga, tanaman perlu diberikan pupuk dengan kandungan fosfor (P) dan kalium (K) yang tinggi untuk merangsang pembungaan. Biasanya menggunakan NPK. “Untuk tanaman tahunan, memang  perlu dikombinasikan antara pupuk organik dan anorganik. Tapi berikan pupuk anorganik yang nonresidu, sesuai dosisnya. Jangan sampai pada masa pembungaan diberikan pupuk organik, ya nggak mau berbuah,” jelas Aji.
Tahapan selanjutnya, setelah terbentuk pentil buah, berikan pupuk dengan kandungan K dan asam amino yang tinggi. Ini untuk mencegah kerontokan pentil buah dan mutu buah yang terbentuk juga akan bagus. Memasuki masa pembesaran buah, masukkan pupuk anorganik masih yang mengandung K dan asam amino tinggi, ditambah pupuk bermagnesium (Mg) tinggi. Kandungan Mg ini dibutuhkan untuk pembentukan gula buah, buah tidak menjadi mengkal, dan tidak pecah-pecah.
Perhatikan Media Tanam dan Air
Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam perawatan tabulampot adalah media tanam. Media tanam yang baik diaduk dari tanah, pupuk organik, dan sekam bakar. Komposisinya bisa 60:40:20 atau 40:30:30. Tanah yang baik adalah yang subur, gembur, dengan pH netral sekitar 6—7. “Usahakan pakai tanah yang diambil dari bawah pohon bambu. Bambu itu banyak unsur makro dan mikronya, (kandungan) humusnya juga tinggi. Jadi untuk tabulampot, gunakan tanah di bawah bambu,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor ini.
Bahan pot tabulampot yang baik terbuat dari keramik. Bahan keramik membuat tanah menempel pada pot sehingga perakaran tanaman juga akan terbentuk dengan baik. Dengan begitu, tanah di dalam pot tidak akan mengumpul di tengah dan mengeras. Tanah juga tidak terlalu lembap akibat cacing.
Untuk menjamin sirkulasi air tetap baik, lanjut Aji, bagian bawah pot dilubangi sebanyak 5 buah. Lubang tersebut lalu ditutup pecahan genteng. Pedagang banyak yang menggunakan styrofoam untuk menutup lubang, tapi hal itu akan menyebabkan lubang tersumbat sepenuhnya, tidak ada aliran air maupun udara yang dibutuhkan tanaman. “Kalau pakai genteng ‘kan lubangnya tidak mati, masih ada sela udara sedikit. Sirkulasi airnya juga akan lancar. Media tanam pun akan terjaga kelembapannya,” tuturnya.
Jika media tanam dan pot sudah terpenuhi, tinggal bagaimana kita menjaga kondisi media agar selalu sesuai kebutuhan tanaman. Kelembapan tanah yang terjaga dengan baik akan percuma jika kemasaman atau pH tanah tidak sesuai kebutuhan tanaman. Kemasaman ideal bagi tanaman adalah 6—7 atau netral. Tanah yang berasal dari daerah industri biasanya terlalu masam atau pH 4—5. Untuk menjaga pH tanah tetap dalam kisaran netral, yang paling sederhana dilakukan adalah menambahkan kapur pertanian (kaptan). “Jika pH tanah sudah bagus, apapun tanamannya pasti akan bagus, diberi pupuk juga akan terserap dengan sempurna,” tandas ayah tiga anak ini.
Jadi, dengan pemberian nutrisi dan perawatan yang tepat, Anda bisa mendapatkan tabulampot yang rajin berbuah tepat waktu. Semua tergantung kedisiplinan dan ketelatenan sang pemilik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar